Menyoal Gaya berumah Tangga dan kekerasan dalam Rumah Tangga*

Menyoal Gaya berumah Tangga dan kekerasan dalam Rumah Tangga**

Syamsiah Badruddin*

Perempuan bukan diciptakan dari tulang ubun-ubun,
karena berbahaya jika membiarkannya dalam sanjung puja
Bukan pula diciptakan dari tulang kaki ,
karena nista, diinjak dan diperbudak

Melainkan Perempuan diciptakan dari tulang rusuk kiri,
dekat di hati untuk dicintai, dekat dg tangan untuk dilindungi..
selama-lamanya……

A. Pendahuluan

Hampir setiap hari kita disuguhkan berita-berita mengenaskan dari seluruh penjur negeri kita ini, mulai dari kota hingga ke desa-desa tentang kekerasan perempuan. Berita tersebut disurguhkan baik lewat media cetak maupun elektronik. Mulai dari rakyat biasa hingga selebriti dan pejabat-pejabat negara. Kesemua itu menjadi bukti bahwa negeri kita ini tidak luput dari masalah kekerasan terhadap perempuan.

Deklarasi PBB (The United Nations Declaration on The Elimination of Violence Against Women, 1993) mengenai penghapusan kekerasan terhadap perempuan membagi kekerasan terhadap perempuan berdasarkan ruang lingkup terjadinya atas tiga bentuk kekerasan, yaitu kekerasan dalam keluarga; kekerasan dalam masyarakat; dan kekerasan dalam negara. Tulisan ini hanya akan mengulas soal kekerasan dalam keluarga (domestic violence) atau yang lebih akrab dengan istilah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dari perspektif Islam.

Selama ini wilayah rumah tangga dianggap sebagai tempat yang aman karena seluruh anggota keluarga merasa damai dan terlindungi. Padahal sesungguhnya penelitian mengungkapkan betapa tinggi intensitas kekerasan dalam rumah tangga. Dari penduduk berjumlah 217 juta, 11,4 persen di antaranya atau sekitar 24 juta penduduk perempuan, terutama di pedesaan mengaku pernah mengalami tindak kekerasan, dan sebagian besar berupa kekerasan domestik, seperti penganiayaan, perkosaan, pelecehan, atau suami berselingkuh (Kompas, 27 April 2000). Jauh sebelumnya, Rifka Annisa Women`s Crisis Center di Yogyakarta tahun 1997 telah menangani 188 kasus kekerasan terhadap perempuan, di antaranya 116 kasus menyangkut kekerasan di rumah tangga (KDRT).

Dalam keseharian, banyak suami yang melakukan kekerasan pada istrinya, baik secara fisik, psikis, verbal, seksual maupun ekonomi. Perlakuan kekerasan tersebut sudah tidak lagi memandang waktu, tempat, dan keadaan istri. Beberapa kasus kekerasan bahkan dila-kukan ketika si istri sedang hamil atau baru beberapa saat melahirkan.

Seperti kasus penganiayaan yang dialami oleh Wiji Lestari (24), warga Mampang, Jakarta Selatan. Ia yang tengah hamil empat bulan, pada 7 Mei lalu dianiaya oleh suaminya, Adiguno (50), hingga mengalami luka-luka yang sangat parah, dan ditinggalkan begitu saja di rumah kakak iparnya, Warsih (30). Kemudian ia dirawat di RS Marinir Cilandak selama dua hari (Pembaruan, 10/5/04).

Yang lebih mengerikan, ada suami yang tega membunuh istrinya. Ahmad Rivai (22), warga Purwoasri, Kediri (Jawa Timur) pada Selasa (1/6) dini hari, menghabisi nyawa istrinya, Atik Winarsih (23), dengan cara memukul kepalanya dengan palu sebanyak 20 kali, sehingga batok kepala istrinya nyaris hancur. Padahal istrinya itu baru 42 hari melahirkan anak pertamanya (Surya, 2/6/04).

Kasus-kasus itu memberi keyakinan bahwa kekerasan terhadap istri sebagai salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memanglah ada. Terlebih Catatan Awal Tahun 2004 yang dilansir oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), memperlihatkan bahwa pada tahun 2003 telah terjadi 5.934 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebanyak 2.703 di antaranya adalah kasus KDRT, dengan korban terbanyak adalah istri, yaitu 2.025 kasus (75 persen)( Neni Utami Adiningsih  www.icrp-online.org/wmview.php?ArtID=475

Angka-angka di atas haruslah dilihat dalam konteks fenomena gunung es, di mana kasus yang tampak hanyalah sebagian kecil saja dari kejadian yang sebenarnya. Apalagi angka-angka tersebut hanya didapatkan dari jumlah korban yang melaporkan kasusnya ke 303 organisasi peduli perempuan. Bagai gunung es, data kekerasan yang tercatat itu jauh lebih sedikit dari yang seharusnya dilaporkan karena tidak semua perempuan yang mengalami kekerasan bersedia melaporkan kasusnya.

Pada umumnya kasus kekerasan dalam rumah tangga dianggap persoalan privat. Karena merupakan persoalan pribadi maka masalah-masalah KDRT dianggap sebagai rahasia keluarga. Padahal, justru anggapan ini membuat masalah ini sulit dicarikan jalan pemecahannya. Seorang polisi yang melerai dua orang: laki-laki dan perempuan berkelahi misalnya, ketika mengetahui bahwa kedua orang tersebut adalah suami-isteri, serta merta sang polisi akan bersungut-sungut dan meninggalkan mereka tanpa penyelesaian.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) telah menjadi agenda bersama dalam beberapa dekade terakhir. Fakta menunjukan bahwa KDRT memberikan efek negatif yang cukup besar bagi wanita sebagai korban.[1] World Health Organization (WHO) dalam World Report pertamanya mengenai “Kekerasan dan Kesehatan” di tahun 2002, menemukan bahwa antara 40 hingga 70 persen perempuan yang meninggal karena pembunuhan, umumnya dilakukan oleh mantan atau pasangannya sendiri.[2] Laporan Khusus dari PBB mengenai Kekerasan Terhadap Perempuan telah mendefinisikan KDRT dalam bingkai jender sebagai ”kekerasan yang dilakukan di dalam lingkup rumah tangga dengan target utama terhadap perempuan dikarenakan peranannya dalam lingkup tersebut; atau kekerasan yang dimaksudkan untuk memberikan akibat langsung dan negatif pada perempuan dalam lingkup rumah tangga.” [3]
Signifikansi menggunakan jender sebagai basis analisa dalam permasalahan ini yaitu untuk mendorong terjadinya perubahan paradigma terhadap KDRT dengan obeservasi sebagai berikut, “Daripada menanyakan kenapa pihak pria memukul, terdapat tendensi untuk bertanya kenapa pihak perempuan berdiam diri” [4] Analisa jender mendorong kita tidak hanya menanyakan mengapa pria melakukan kekerasan, tetapi juga menanyakan kenapa kekerasan terhadap perempuan terjadi dan diterima oleh banyak masyarakat. Merestrukturisasi pertanyaan tesebut merupakan hal penting dalam melakukan pembaharuan hukum, khususnya dari perspektif keadilan dan hak asasi manusia (HAM). Kunci utama untuk memahami KDRT dari perspektif jender adalah untuk memberikan apresiasi bahwa akar masalah dari kekerasan tersebut terletak pada kekuasaan hubungan yang tidak seimbang antara pria dan perempuan yang terjadi pada masyarakat yang didominasi oleh pria. Sebagaimana disampaikan oleh Sally E. Merry, “Kekerasan adalah… suatu tanda dari perjuangan untuk memelihara beberapa fantasi dari identitas dan kekuasaan. Kekerasan muncul, dalam analisa tersebut, sebagai sensitifitas jender dan jenis kelamin”. [5] Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan khususnya terhadap perempuan oleh pasangannya maupun anggota keluarga dekatnya, terkadang juga menjadi permasalahan yang tidak pernah diangkat ke permukaan. Meskipun kesadaran terhadap pengalaman kekerasan terhadap wanita berlangsung setiap saat, fenomena KDRT terhadap perempuan diidentikkan dengan sifat permasalahan ruang privat. Dari perspektif tersebut, kekerasan seperti terlihat sebagai suatu tanggung jawab pribadi dan perempuan diartikan sebagai orang yang bertanggung jawab baik itu untuk memperbaiki situasi yang sebenarnya didikte oleh norma-norma sosial atau mengembangkan metode yang dapat diterima dari penderitaan yang tak terlihat.
(Pan Mohamad Faiz jurnalhukum.blogspot.com/2007/11/kekerasandalamrumahtangga.html).

Pengaruh negatif dari KDRT pun beraneka ragam dan bukan hanya bersifat hubungan keluarga, tetapi juga terhadap anggota dalam keluarga yang ada di dalamnya. Dalam hal luka serius fisik dan psikologis yang langsung diderita oleh korban perempuan, keberlangsungan dan sifat endemis dari KDRT akhirnya membatasi kesempatan perempuan untuk memperoleh persamaan hak bidang hukum, sosial, politik dan ekonomi di tengah-tengah masyarakat. Terlepas dari viktimisasi perempuan, KDRT juga mengakibatkan retaknya hubungan keluarga dan anak-anak yang kemudian dapat menjadi sumber masalah sosial.

 

B. Kekerasan Terhadap Perempuan

1. Definisi

Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan-penderitaan pada perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi.
Seringkali kekerasan pada perempuan terjadi karena adanya ketimpangan atau ketidakadilan jender.  Ketimpangan jender adalah perbedaan peran dan hak perempuan dan laki-laki di masyarakat yang menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dari laki-laki.  “Hak istimewa” yang dimiliki laki-laki ini seolah-olah menjadikan perempuan sebagai “barang” milik laki-laki yang berhak untuk diperlakukan semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan. 

 

Perempuan berhak memperoleh perlindungan hak asasi manusia.  Kekerasan terhadap perempuan dapat berupa pelanggaran hak-hak berikut:

  • Hak atas kehidupan
  • Hak atas persamaan
  • Hak atas kemerdekaan dan keamanan pribadi
  • Hak atas perlindungan yang sama di muka umum
  • Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan fisik maupun mental yang sebaik-baiknya
  • Hak atas pekerjaan yang layak dan kondisi kerja yang baik
  • Hak untuk pendidikan lanjut
  • Hak untuk tidak mengalami penganiayaan atau bentuk kekejaman lain, perlakuan atau penyiksaan secara tidak manusiawi yang sewenang-wenang.

Kekerasan perempuan dapat terjadi dalam bentuk:

  • Tindak kekerasan fisik
  • Tindak kekerasan non-fisik
  • Tindak kekerasan psikologis atau jiwa

Tindak kekerasan fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa atau menganiaya orang lain.  Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan anggota tubuh pelaku (tangan, kaki) atau dengan alat-alat lainnya. 

Tindak kekerasan non-fisik adalah tindakan yang bertujuan merendahkan citra atau kepercayaan diri seorang perempuan, baik melalui kata-kata maupun melalui perbuatan yang tidak disukai/dikehendaki korbannya. 

Tindak kekerasan psikologis/jiwa adalah tindakan yang bertujuan mengganggu atau menekan emosi korban.  Secara kejiwaan, korban menjadi tidak berani mengungkapkan pendapat, menjadi penurut, menjadi selalu bergantung pada suami atau orang lain dalam segala hal (termasuk keuangan).  Akibatnya korban menjadi sasaran dan selalu dalam keadaan tertekan atau bahkan takut. 

  2. Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diinginkan oleh orang yang menjadi sasaran.  Pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, seperti di tempat kerja, di kampus/sekolah, di pesta, tempat rapat, dan lain-lain. Pelaku pelecehan seksual bisa teman, pacar, atasan di tempat kerja, dokter, dukun, dsb. Akibat pelecehan seksual, korban merasa malu, marah, terhina, tersinggung, benci kepada pelaku, dendam kepada pelaku, shok/trauma berat, dan lain – lain

Langkah-langkah yang perlu dilakukan korban:

  • Membuat catatan kejadian (tanggal, jam, saksi)
  • Bicara kepada orang lain tentang pelecehan seksual yang terjadi
  • Memberi pelajaran kepada pelaku
  • Melaporkan tindakan pelecehan seksual
  • Mencari bantuan/dukungan kepada masyarakat

3. Perkosaan

Perkosaan adalah hubungan seksual yang terjadi tanpa diinginkan oleh korban. Seorang laki-laki menaruh penis, jari atau benda apapun ke dalam vagina, anus, atau mulut perempuan tanpa sekehendak perempuan itu, bisa dikategorikan sebagai tindak perkosaan.
Perkosaan dapat terjadi pada semua perempuan dari segala lapisan masyarakat tanpa memperdulikan umur, profesi, status perkawinan, penampilan, atau cara berpakaian.  Berdasarkan pelakunya, perkosaan bisa dilakukan oleh:

  • Orang yang dikenal: teman, tetangga, pacar, suami, atau anggota keluarga (bapak, paman, saudara).
  • Orang yang tidak dikenal, biasanya disertai dengan tindak kejahatan, seperti perampokan, pencurian, penganiayaan, atau pembunuhan.

Tindak perkosaan membawa dampak emosional dan fisik kepada korbannya.  Secara emosional, korban perkosaan bisa mengalami stress, depresi, goncangan jiwa, menyalahkan diri sendiri, rasa takut berhubungan intim dengan lawan jenis, dan kehamilan yang tidak diinginkan.   Secara fisik, korban mengalami penurunan nafsu makan, sulit tidur, sakit kepala, tidak nyaman di sekitar vagina, berisiko tertular PMS, luka di tubuh akibat perkosaan dengan kekerasan, dan lainnya.

Perempuan yang menjadi korban perkosaan sebaiknya melakukan langkah-langkah berikut:

  • Jangan mandi atau membersihkan kelamin sehingga sperma, serpihan kulit ataupun rambut pelaku tidak hilang untuk dijadikan bukti
  • Kumpulkan semua benda yang dapat dijadikan barang bukti, misalnya: perhiasan dan pakaian yang melekat di tubuh korban atau barang-barang milik pelaku yang tertinggal.  Masukkan barang bukti ke dalam kantong kertas atau kantong plastik.
  • Segera lapor ke polisi terdekat dengan membawa bukti-bukti tersebut, dan sebaiknya dengan keluarga atau teman.
  • Segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat (dokter, puskesmas, rumah sakit) untuk mendapatkan surat keterangan yang menyatakan adanya tanda-tanda persetubuhan secara paksa (visum)

Meyakinkan korban perkosaan bahwa dirinya bukan orang yang bersalah, tetapi pelaku yang bersalah.

4. Pengertian KDRT (Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga)

Undang-Undang PKDRT ini menyebutkan bahwa Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 ayat 1).

Dalam banyak literatur, KDRT diartikan hanya mencakup penganiayaan suami terhadap isterinya karena korban kekerasan dalam rumah tangga lebih banyak dialami oleh para isteri ketimbang anggota keluarga yang lain. KDRT dapat berbentuk: 1) penganiayaan fisik (seperti pukulan, tendangan); 2) penganiayaan psikis atau emosional (seperti ancaman, hinaan, cemoohan); 3) penganiayaan finansial, misalnya dalam bentuk penjatahan uang belanja secara paksa dari suami; dan 4) penganiayaan seksual (pemaksaan hubungan seksual). (Musda Mulia

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga yang dimaksudkan dalam tulisan ini mencakup segala bentuk perbuatan yang menyebabkan perasaan tidak enak (penderitaan), rasa sakit, luka, dan sengaja merusak kesehatan. Termasuk juga dalam kategori penganiayaan terhadap istri adalah pengabaian kewajiban memberi nafkah lahir dan batin.

C. Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga

Dengan telah disahkan Undang-undang no. 23 tahun 2004 mengenai Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga ( PKDRT ) yang terdiri dari 10 bab dan 56 pasal, diharapkan adanya perlindungan hukum bagi anggota keluarga khususnya perempuan, dari segala tindak kekerasan dalam rumah tangga.
Untuk itu kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan kekerasan dalam rumah tangga dan juga bagaimana bentuk dari kekerasan itu sendiri, yang semuanya terurai dalam pasal-pasal penting, yang diatur dalam Undang-undang ini.

Dalam UU No 23 Tahun 2004, Bentuk-bentuk kekerasan dalam Rumah Tangga

1.       Kekerasan Fisik

2.       Kekerasn Psikis

3.       Kekerasan Seksual; atau

4.       Penelantaran Rumah Tangga ( Psl : 5 ).

o        Yang dimaksud dengan kekerasan fisik adalah : Kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. ( psl ; 6 )

o        Yang dimaksud dengan kekerasan psikis adalah : Kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. ( psl ; 7 )

o        Yang dimaksud dengan kekerasan seksual adalah : Kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c meliputi:

a.      Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetapkan dalam lingkup hidup rumah tangga tersebut;

b.      Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.( Psl ; 8 )

o        Yang dimaksud dengan penelantaran rumah tangga adalah :

                   a.      Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.

                   b.      Penelantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. ( Psl ; 9 )

Kendala dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga

  1. Korban kuang paham bahwa perbuatan Pelaku adalah merupakan tindak pidana.
  2. Korban ragu-ragu untuk melaporkan ke Polisi
  3. Tenggang waktu antara kejadian dengan saat korban melakukan ke polisi cukup lama, sehingga bekas luka atau hasil Visum et repertum tidak mendukung.
  4. Korban malu untuk melaporkan karena merupakan aib keluarga
  5. Korban merasa pelaku adalah tulang punggung keluarga, sehingga apabila dilaporkan maka tidak ada yang membiayai.
    • Korban/Keluarga untuk kelangsungan hidupnya.
    • Belum tersosialisasinya UU No. 23 tahun 2004 terhadap para penegak hukum dan masyarakat.

Apa yang harus kita lakukan apabila menemukan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dilingkungan kita

  1. Segera laporkan kejadian ke Polisi
  2. Segera Visum
  3. Berikan penguatan, pendampingan kepada korban agar korban kuat menghadapi masalah.
  4. Kumpulkan bukti-bukti dan data saksi

Namun demikian, persoalan KDRT menjadi semakin parah karena hadirnya mitos. Di antara mitos yang berkembang di masyarakat bahwa suami memukul isteri hanya karena kekhilafan sesaat lantaran isterinya itu dianggap terlalu rewel, tidak setia, dan berani membangkang. Padahal, isteri yang datang melapor pada umumnya telah mengalami kekerasan dalam kurun waktu yang cukup lama. Hampir-hampir tidak ditemukan istri yang melapor karena baru sekali mengalami perlakuan kekerasan. Mitos lainnya, selama ini diyakini bahwa isteri yang disiksa adalah tipe istri yang pembangkang. Demikian juga korban dan pelaku KDRT adalah kelompok masyarakat yang tidak terdidik. Faktanya, baik korban maupun pelakunya ternyata berasal dari berbagai kalangan; status sosial, tingkat pendidikan, dan jenis profesi, bahkan tidak jarang pelaku kekerasan justru dari kalangan tokoh masyarakat dan pemuka agama yang terdidik (Data yang lebih lengkap dapat dilihat Kekerasan Terhadap Perempuan, Ford Foundation, 1998).

Lenore Walker (baitijannati.wordpress.com/2007/02/02/pandangan-islam-terhadap-kekerasandalamrumahtangga) juga mengidentifikasi adanya tingkatan tiga-tahap terhadap kekerasan di dalam rumah oleh para suami pemukul, yaitu: 1) tahapan “pembentukan ketegangan”; 2) tahapan “pemukulan berulang-ulang”; dan 3) tahapan “perilaku cinta, lemah-lembut, dan penyesalan mendalam”. Walker memperhatikan bahwa perempuan-perempuan yang membunuh orang yang menganiaya mereka biasanya melakukan pembunuhan itu pada tahapan ketiga (1979: 55-70).

D. Faktor Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga

Jika diamati, munculnya kekerasan dalam rumah tangga sekurang-kurangnya disebabkan beberapa faktor  (Musda Mulia baitijannati.wordpress.com/2007/02/02/ pandangan-islam-terhadap-kekerasandalamrumahtangga):

1. Nilai-Nilai Budaya Patriarkhi

Munculnya anggapan bahwa posisi perempuan lebih rendah daripada laki-laki atau berada di bawah otoritas dan kendali laki-laki. Hubungan perempuan dan laki-laki seperti ini telah dilembagakan di dalam struktur keluarga patriarkhal dan didukung oleh lembaga-lembaga ekonomi dan politik dan oleh sistem keyakinan, termasuk sistem religius, yang membuat hubungan semacam itu tampak alamiah, adil secara moral, dan suci (Emerson Dobash, 1979: 33-34). Lemahnya posisi perempuan merupakan konsekuensi dari adanya nilai-nilai patriarki yang dilestarikan melalui proses sosialisasi dan reproduksi dalam berbagai bentuk oleh masyarakat maupun negara. Nilai-nilai yang membenarkan laki-laki memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk mempertahankan diri (Coral Smart, 1980:104). Perempuan di dalam kebudayaan patriarkal dihantui oleh pesan-pesan yang menegatifkan atau meremehkan keberadaan mereka. Tubuh seksual mereka dianggap ancaman berbahaya bagi kehebatan laki-laki dan menjadi alasan untuk membenarkan aniaya verbal dan fisik terhadapnya.

2. Tatanan Hukum Yang Belum Memadai

Aspek-aspek hukum, berupa substansi hukum (content of law), aparat penegak hukum (structure of law), maupun budaya hukum dalam masyarakat (culture of law) ternyata tidak memihak terhadap kepentingan perempuan, terutama dalam masalah kekerasan. KUHP yang menjadi acuan pengambilan keputusan hukum dirasakan sudah tidak memadai lagi untuk mencover berbagai realitas kekerasan yang terjadi di masyarakat.

Nilai-nilai budaya yang membenarkan posisi subordinat perempuan malah dikukuhkan dalam berbagai perundang-undangan, misalnya dalam UU Perkawinan tahun 1974 yang membedakan dengan tegas peran dan kedudukan antara suami dan istri. Pasal 31 ayat 3 UU: “Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga”. Pasal 34 ayat 1 dan 2 ditetapkan: “Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya” dan “Istri wajib mengatur urusan rumah tangga dengan sebaik-baiknya”. Terlihat secara jelas bahwa undang-undang tersebut menempatkan istri secara ekonomi menjadi sangat tergantung kepada suami. Agaknya, Indonesia harus belajar dari Malaysia yang telah memiliki undang-undang bentuk Akta Keganasan Rumah Tangga sejak tahun 1994.

E. Gaya dalam Berumah tangga

Menurut Reza M Syarief (2005) bahwa ada satu hal yang sangat menarik di dalam kehidupan sehari – hari sebuah survei yang terbatas, tampak  bahwa ternyata di masyarakat ada lima macam model rumah tangga. Ada lima macam gaya rumah tangga. Anda boleh menentukan kira­- kira rumah tangga Anda yang sekarang ini seperti apa. Anda bisa jawab secara jujur dan terus terang, saya tidak tahu apakah jawaban Anda ini benar atau salah, tapi anda bisa melihat dari cerita ini dan Anda bisa menentukan Anda termasuk model rumah tangga gaya apa. Kelima gaya rumah tangga tersebut sebahagian besar diantaranya menyumbang atau memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.

Pertama, model rumah tangga gaya hotel. Anda tahu hotel? Hotel adalah tempat transit, dia bukan tempat tinggal untuk menetap dalam jangka waktu yang Anda melihat ada sebuah rumah tangga dimana sang suami pulang ke rumah hanya untuk menumpang tidur, makan, (maaf) buang air, maka sebenarnya model rumah tangga itu sudah bisa disebut sebagai kategorinya model rumah tangga gaya hotel. Yang sering disebut 3 UR: dapur, kasur, sumur. Atau 3K: kamar tidur, di, dan kamar makan. Kalaulah rumah tangga Anda seperti itu, Anda siap-slap untuk menghadapi sebuah kata perceraian. Saya tidak sedang ikuti Anda, tapi Anda perlu mengambil pelajaran dari dua kisah yang saya sampaikan  tadi. Saya yakin Anda tidak akan memilih model rumah tangga yang pertama, itu model rumah tangga gaya hotel.

Kedua, model rumah tangga gaya hospital `rumah sakit’. Anda tahu ada apa dalam rumah sakit? Di dalam sebuah rumah sakit itu ada yang namanya pasien dan ada yang namanya dokter. Si pasien berkata kepada dokter, “Dok, saya sudah nana-mana dan tidak sembuh juga. Ketika saya bertemu dengan Anda, saya bisa sembuh:” Wah dokter itu dengan arogan dan sombongnya mengatakan, ; Anda bisa berobat dengan saya. Kalau tidak ada saya, kamu tidak akan bisa sembuh’ Itu kata sang dokter. Kemudian sebaliknya sang pasien mengatakan, kalau saya tidak berobat dengan Anda, Anda tidak akan dapat duit:’

Apa maksudnya? Model rumah tangga gaya hospital adalah model rumah tangga yang didasarkan pada politik balas jasa. Si dokter merasa berjasa pada si pasien, merasa berjasa kepada dokter. Masing-masing merasa berjasa, merasa lebih sehingga tidak akan ketemu, tidak akan ada sinergi. Suami merasa lebih berjasa kepada istrinya, istrinya pun merasa lebih berjasa kepada suaminya.

Alangkah ironisnya bila terjadi suatu keributan kecil dalam suatu rumah tangga, kemudian tiba-tiba saja sang istri emosional mengatakan kepada suaminya, “Hei Mas, sadar ya Mas, lantaran kamu menikah sama saya kamu jadi punya rumah, tahu Ilggak rumah yang kita tinggali rumah siapa? Rumah orang tua saya.” Itu kata sang istri. “Tahu nggak mobil yang Mas pakai ke kantor setiap pagi itu mobil siapa? Mobil orang tua saya. Gara-gara menikah, Mas bisa punya rumah, bisa punya mobil:’

Suami dibegitukan tentu saja dia emosi, kemudian mengatakan pada istrinya, “Hai, kamu itu kalau saya tidak nikahi, masih belum laku, masih di pinggir jalan. Beruntung kamu saya nikahi. Bersyukur kamu punya suami seperti saya:’

Kita sering menemukan model-model rumah tangga yang seperti ini, dimana suami merasa lebih berjasa, istri merasa lebih berjasa. Mudah-mudahan ini tidak terjadi di Indonesia, tapi setahu saya pernikahan-pernikahan para selebritis di Hollywood sudah diawali dengan proses pembagian hak waris. Sejak awal sudah teken kontrak kalau saya menikah dan nanti bercerai, saya dapat harta apa dan kamu dapat pat harta apa. Jadi, sudah ada pembagian, sudah ada bagi hasil sebelum pernikahan itu dilangsungkan. Mereka sudah membentuk suatu kesepakatan komitmen, istilah orang kita adalah sudah ditentukan harta gono-gininya. Jadi, sebenarnya mereka tidak ingin mempertahankan pernikahannya. Sejak awal mereka pesimis akan pernikahannya sehingga mengantisipasi kemungkinan terjadi perceraian.

Yang ketiga, model rumah tangga gaya pasar. Di pasar ada pembeli dan penjual. Si pembeli ini ingin membeli barang semurah mungkin, sebaliknya si penjual ingin menjual barang semahal mungkin. Si pembeli berkata, “Pokoknya harganya sekian:’ si penjual juga berkata, “Pokoknya harganya sekian:” Dua-duanya pakai kata pokok. Susah. Tidak ada koma, masing-masing menggunakan titik.

Begitu pula dalam rumah tangga, kalau suami mengatakan pokoknya dan istri mengatakan pokoknya, dua-duanya tidak menggunakan koma, masing-masing titik; maka tidak ada lagi kesepakatan. Apa yang terjadi ketika seorang istri mengatakan kepada suaminya, “Pokoknya saya sebagai seorang istri tidak mau menjadi ibu rumah tangga, titik:” Suami berkata, “Pokoknya sejak kamu menjadi istri saya, tugas kamu adalah mencuci, mengepel, membersihkan, menyiapkan makanan, mengurus anak-anak, itulah tugas kamu, ibu rumah tangga, titik.” Kemudian istrinya mengatakan “Pokoknya sejak saya menikah dengan Anda, saya nggak mau hanya menjadi ibu rumah tangga, saya nggak mau hanya sekadar menjadi seorang istri. Saya  ingin bekerja Mas, saya ingin independen, saya tidak mau tergantung pada suami. Saya ini jelek-jelek sarjana lho mas;’ Dua-duanya pakai titik. Susah para insan sejati. Harus ada bargaining power, harus ada satu tawar-menawar yang semestinya dalam sebuah rumah tangga. Harus ada kompromi.

Kemudian yang keempat model rumah tangga gaya Grave, kuburan. Anda tahu bagaimana suasana di kuburan, suasana yang khas dari kuburan itu adalah sunyi, tenang, dan tidak ada suara. Itulah rumah tangga gaya kuburan. Suami dan istri hidup  sudah puluhan tahun tidak pernah berkomunikasi, tidak pernah kata – kata.. Suami dan istri saling tidak bertegur sapa. No communication, No words. Tidak ada  komunikasi, tidak ada kata-kata. Sehingga, wajarlah kalau anak-anak itu mengalami kesulitan berbicara. Ini pernah terjadi insan sejati, di Palembang adu keluarga yang tidak pernah mengadakan komunikasi antara suami dengan akhirnya anak itu mengalami kesulitan berbicara, gagap dalam berbicara, dia terlahir normal. Bagaimana dia bisa bicara sementara tidak mendapatkan kosakata sedikitpun dari orangtua karena orangtuanya bisu. Tidak pernah bicara, tidak pernah berkomunikasi.

Saya yakin dari model yang pertama sampai model yang keempat ini, boleh ini boleh jadi anda termasuk salah satunya. Inilah saatnya kita jujur pada diri sendiri.

Pada kesempatan yang baik ini saya mengajak Anda untuk memilih model yang kelima ditambah dengan model yang keenam. Dan kita semua komitmen (baik Anda seorang suami maupun seorang istriatau calon suami atau isteri) untuk mewujudkan model rumah tangga yang kelima dan keenam. Apa model rumah tangga yang kelima dan keenam?

Yang kelima adalah model rumah tangga gaya sekolah, School. Kenapa saya katakan gaya sekolah? Model rumah tangga gaya sekolah itu adalah ditandai dengan 3A. A yang pertama adalah Asah, A yang kedua adalah Asih, A yang ketiga adalah Asuh. Kalau Anda sependapat dengan model rumah tangga gaya ini, maka mulai detik ini dan mulai saat ini Anda komitmen bersama pasangan hidup Anda. Saya bersama istri saya, saya bersama suami saya, bertekad, berkomitmen untuk saling mengasah, mengasih, dan mengasuh. Saya katakan saling ini karena ada komunikasi dua arah bukan satu arah, bukan suami terhadap istri atau istri terhadap suami, harus dua arah. Kalau tidak, anada akan menemukan istilah ; ada yang namanya DKI (Di Bawah Ketiak Istri) atau ISTI (Ikatan Suami Takut Istri). Ya tidak ada lagi istilah begitu.

Dalam suatu rumah tangga yang sudah komitmen, maka mereka mengawal komitmen itu bersama. Bukan hanya satu pihak, tapi dua pihak itu sekaligus. Marilah kita berkomitmen, saya akan membentuk rumah tangga gaya sekolah. Dan Anda siap dengan 3A tadi. Saling mengasah. Apa itu saling mengasah? Saling menajamkan wawasan. Saya yakin tidak semua suami memiliki wawasan yang sangat luas, begitupula istri. Dengan adanya pertemuan suami istri, terjadilah pertukaran wawasan. Sharing knowledge, sharing knowledge, sharing experiences, berbagi wawasan dan pengalaman.

Semakin bertambah tahun pernikahan, semakin bertambah wawasan kita. Mungkin  suami pernah membaca buku ini, dia sharing sama istrinya. Atau sebaliknya istri pernah membaca satu topik di majalah tertentu kemudian dia sharing sama suami. Ada penambahan  wawasan. Semakin bertambah tahun pernikahan Anda, semakin bertambah wawasan Anda. Tidak harus Anda kuliah S2, S3. Pernikahan yang Anda sekolah yang akan meningkatkan kemampuan Anda. Yang kedua adalah Asih, saling mengasihi. Dan A yang ketiga adalah saling mengasuh, saling memberikan asuhan saling memberikan asih, saling kasih sayang. Tidak boleh kita saling menunggu. Siapa yang berani memulai, berbuat langsung. Tidak menunggu bola tapi harus menjemput bola.

Kemudian model yang keenam sebagai tambahan kepada Anda, model rumah masjid. Kenapa saya katakan masjid? Masjid adalah sebuah gambaran tangga asmara (as sakinah mawaddah wa rahmah) yang menjadi dambaan dan harapan setiap keluarga. Bukan hanya Anda, tapi juga saya. Bagaimana model rumah tangga gaya masjid. Ada empat ciri.

1.        Ketulusan, Sincerity, dibangun dalam ketulusan. Shalat tidak akan sah kalau tidak dibangun dengan wudhu. Kita wudhu bersama. Kita basuh muka dan dan telapak tangan kita, kita basuh kaki kita, kita basuh kepala kita, telinga kita, kumur-kumur. Tujuannya adalah kebersihan hati, ketulusan jiwa. Rumah masjid adalah ketulusan jiwa.

2.        Ada imam dan ada makmum. Alangkah indahnya sebuah rumah tangga, jika imam adalah suaminya, makmum adalah istri dan anak-anaknya. Imam ruku istri pun ruku, ada kebersamaan.

3.        Loyalitas. Keluarga sakinah adalah loyalitas. Kesetiaan mutlak dari istri suami. Kecuali jika telah melakukan penyimpangan.

4.        Shalat diakhiri dengan Salam. Assalamu’alaikum ke kanan dan ke kiri. Keselamatan,  ketenangan, dan kedamaian senantiasa mewarnai suasana dalam rumah tangga gaya masjid. Bukan keresahan, bukan konflik, bukan baku hantam.

Kesimpulan dalam pembahasan tentang gaya berumah tangga ini adalah bahwa untuk menjadi keluarga yang unggul, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, tentukan akhir yang Anda inginkan dalam kehidupan rumah tangga ini. Tentukan model rumah tangga yang tepat, gaya rumah tangga sekolah dan masjid. Kedua, tanamkan dalam pikiran Anda dan pasangan Anda komitmen untuk memulai, tidak ada kata terlambat untuk memulai saat ini, detik ini kita bisa memulai. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari yang terdahulu, maka ia termasuk orang-orang sukses.” Saya yakin Anda ingin sukses, saya pun ingin sukses. Untuk bisa menjadi orang sukses, marilah kita jadikan hari ini lebih baik dibandingkan kemarin, dan hari esok kita lebih baik dari hari ini.

 

F. Program Antisipasi dan Pengendalian Kekerasan Perempuan dalam Rumah Tangga

 

 

Sasaran pembangunan bidang pemberdayaan perempuan dan kesejahteraan dan perlindungan anak tahun 2008 adalah:

1.      Terjaminnya keadilan gender dalam berbagai peraturan perundangan-undangan dan kebijakan pembangunan, terutama di bidang politik, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, ekonomi, dan hukum, di tingkat provinsi dan kabupaten/kota;

2.      Terintegrasinya kebijakan pemberdayaan dan perlindungan perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan anak ke dalam berbagai kebijakan, program dan kegiatan pembangunan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota;

3.      Meningkatnya upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak.

4.      Meningkatnya kualitas dan kapasitas kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak, termasuk ketersediaan data gender dan anak; dan

5.      Meningkatnya peran lembaga masyarakat dalam pemberdayaan perempuan dan peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak, di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

 

Dengan memperhatikan kondisi pembangunan perempuan dan anak yang bersifat kultural dan struktural, diperlukan tindakan pemihakan yang jelas dan nyata guna mengurangi kesenjangan gender di seluruh bidang pembangunan. Untuk itu arah kebijakan tahun 2008 adalah:

  1. Peningkatan partisipasi dan peran perempuan dalam proses politik dan jabatan publik;
  2. Peningkatan taraf pendidikan, akses dan kualitas kesehatan, serta bidang pembangunan lainnya, guna mempertinggi kualitas hidup perempuan;
  3. Peningkatan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak;
  4. Penyempurnaan perangkat hukum pidana yang lebih lengkap dalam melindungi setiap individu dari berbagai tindak kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi, termasuk penghapusan perdagangan perempuan dan anak;
  5. Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak, terutama anak usia dini; dan
  6. Penguatan kelembagaan, koordinasi, dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi dari berbagai kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan di segala bidang, termasuk pemenuhan komitmen internasional, penyediaan data dan statistik gender dan anak, serta peningkatan partisipasi masyarakat.

 

INGAT!!!
Disahkannya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga bukan berarti perjuangan terhenti. Ini justru merupakan titik awal perjuangan yang sebenarnya. Pengawasan terhadap pemerintah dalam menjalankan kewajibannya melaksanakan Undang-Undang ini tetap harus kita lakukan. Demikian pula sosialiasi kepada masyarakat luas mengenai maksud dan tujuan UU ini, harus terus menerus diupayakan
.


* Makalah disajikan pada Seminar Pemberdayaan Perempuan dalam rangka memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional yng diselenggarakan di Gedung Islamic Centre Parepare oleh Senat AKPER FATMA pada tanggal 04 Juni 2008.

* Ketua Unit Pemberdayaan Perempuan Kopertis Wilayah IX Sulawesi (UP3K), Dosen Kopertis Wilayah IX Sulawesi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim ; situs.kesrepro.info/gendervaw/referensi2.htm, diakses tanggal 1 Juni 2008

Anonim, http://www.icrp-online.org/wmview.php?ArtID=475&page=4. diakses tanggal 11 Mei 2008

Anonim, www.kowani.or.id/main/index.asp?lang=id&p=101&f=apr012005001. diakses tanggal 6 Mei 2008

Anonim, http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/05/13/brk,20070513-99962,id.html.. diakses tanggal 1 Juni 2008

http://www.suarapembaruan.com/News/2004/09/20/Editor/edit03.htm. diakses tanggal 1 Juni 2008

Neni Utami Adiningsih www.icrp-online.org/wmview.php?ArtID=475. diakses tanggal 22 Mei  2008

Pan Mohamad Faiz jurnalhukum.blogspot.com/2007/11/kekerasandalamrumahtangga.html –

Syarief. Reza. M. Life Excellent,  Menuju Hidup yang Lebih Baik, 2005, Jakarta, Prestasi

Siti Musdah Mulia,MA., APU (baitijannati. wordpress. com/ 2007/ 02/02/ pandangan-islam-terhadap-kekerasandalamrumahtangga diakses tanggal 1 Juni 2008.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: